the black hole
May 2nd, 2008 by iiscsui06Humm, tadi iseng2 googling (setelah menunaikan kewajiban, mbalez testi orang2)..
Nyari black hole..
Zing… ga terduga link ke site yang di situ tertulis:
Dunia Kehilangan Pencetus Black Hole dan Penggagas Teori Chaos
Dalam rentang beberapa hari saja, dunia
kehilangan dua ilmuwan besar dunia. John
Wheeler, fisikawan AS, yang merupakan pencetus istilah black hole (lubang
hitam) meninggal dalam usia 96 tahun di rumahnya, New Jersey, Minggu (13/4). Lima hari kemudian, menyusul Edward Lorenz, penemu teori chaos, dalam usia 90 tahun di rumahnya, Cambridge Massachussets.
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/17/1927032/dunia.kehilangan.pencetus.black.hole.dan.penggagas.teori.chaos
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.. Patah tumbuh hilang berganti (comment salah seorang di dunia maya), pasti akan muncul ilmuwan-ilmuwan cemerlang untuk meneruskan semua effort mereka.
Trus, nyasar deh ke site-site tentang ‘butterfly effect’. Awalnya sempet takjub. Sampe sekarang juga masi bengong..
Ini aku kutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_kupu-kupu
Efek Kupu-Kupu
Edward Norton Lorenz, yang menjadi Profesor di MIT tahun 1962 dalam
bidang meteorologi ini menemukan butterfly effect atau apa yang menjadi
landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan
rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917
di USA memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan
meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia
menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer
(kuliah Fisika Matematika dan komputasi). Pada awalnya dia mencetak
hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di
belakang koma (…,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas,
ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan
berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan
tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda
dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang
berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak
yang lain sama sekali. Inilah yang disebut butterfly effect, yaitu
kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil (pengabaian angka
sekecil 0.000127) menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan
kemudian. Fenomena ini, akhirnya melahirkan teori chaos , yang juga
dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap
kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah
secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem
dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama
akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat
kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan
yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.
Subhanallah,,
Ayo teman-teman, masih banyak lagi info di luar sana yang mungkin belum sempat kita ketahui. Jangan sampai kita menjadi katak dalam tempurung, hanya menjadi coder di depan komputer (khusus: anak fasilkom). Science and social issues must be known as far as all of our concern. Tul, ga?